TopCareer.id – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berbahaya bagi paru-paru dan bisa memicu masalah kesehatan pernapasan pada masyarakat.
Alfian Nur Rosyid, Pakar Paru Universitas Airlangga (Unair) menjelaskan bahwa bahaya utama asap karhutla berasal dari kandungan Particulate Matter (PM) 2.5 yang dapat menembus hingga bagian terdalam paru-paru.
Partikel mikro ini bisa memicu iritasi, peradangan, stres oksidatif, dan merusak pertahanan alami saluran pernapasan.
“Jika paparan PM2.5 ini terjadi lama dan berulang, dapat menyebabkan penurunan fungsi paru, memperberat kondisi penderita asma dan PPOK, serta meningkatkan risiko penyakit paru kronis,” kata Alfian.
Mengutip laman resmi Unair, Kamis (15/10/2026), Alfian menjelaskan bahwa gejala dari paparan asap karhutla memiliki ciri khas yang membedakannya dengan ISPA akibat infeksi virus atau bakteri biasa.
Serangan polutan asap biasanya didominasi oleh mata perih, tenggorokan kering, batuk, dan dada yang terasa berat tak lama setelah terpapar.
Baca Juga: Karhutla RI Disorot Leonardo DiCaprio: 5 Juta Orang Terpapar Asap
Sementara pada infeksi virus atau bakteri, gejala biasanya lebih sering ditandai dengan demam, pilek, nyeri tenggorokan, badan lemas, dan kadang dahak bertambah.
“Keluhan akibat paparan asap dan infeksi memang bisa terlihat mirip. Namun, jika gejala sesak terasa berat atau menetap setelah terpapar asap, pemeriksaan medis tetap harus segera dilakukan,” kata Alfian.
Ancaman keparahannya pun jauh lebih tinggi pada kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, pekerja luar ruangan, dan orang dengan penyakit komorbid.
Untuk itu, Alfian meminta masyarakat terdampak asap karhutla untuk memakai masker dengan standar tinggi.
“Masker yang lebih efektif untuk menyaring partikel asap adalah N95, KN95, atau KF94 dengan syarat terpasang rapat di wajah. Masker bedah biasa perlindungannya terhadap PM2.5 lebih terbatas,” ujarnya.
Baca Juga: Survei CELIOS: 75 Persen Warga Stres karena Kebijakan Pemerintah
Selain itu, warga diimbau mengurangi paparan polusi dengan memantau kualitas udara, membatasi aktivitas fisik di luar ruangan, serta hindari polusi indoor seperti rokok atau obat nyamuk bakar.
Jika seseorang sudah terpapar asap, Alfian mengingatkan masyarakat untuk segera melakukan tindakan awal.
“Langkah pertolongan pertama, segera menjauh dari sumber asap ke tempat berudara lebih bersih. Istirahat, cukup minum, bersihkan wajah dan mata, serta kurangi aktivitas fisik,” katanya.
Di samping itu, masyarakat diimbau tidak mengonsumsi obat sembarangan serta waspadai tanda bahaya klinis seperti sesak berat, bibir kebiruan, hingga penurunan kesadaran.
“Hindari langsung mengonsumsi antibiotik atau steroid tanpa pemeriksaan dokter, karena tidak semua keluhan akibat asap merupakan infeksi bakteri. Jika muncul tanda bahaya, segera ke fasilitas kesehatan,” pungkas Alfian.



